gorgeousitalia – Gula telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari pola makan masyarakat Indonesia. Dari teh manis pada pagi hari, kopi susu saat bekerja, minuman kemasan ketika bepergian, hingga makanan penutup setelah makan malam, rasa manis hadir dalam begitu banyak pilihan konsumsi sehari-hari.

Persoalannya, kebiasaan mengonsumsi gula berlebihan memiliki konsekuensi kesehatan. Asupan gula tambahan yang tinggi dapat meningkatkan asupan kalori, berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, serta memperbesar risiko gangguan metabolik apabila berlangsung terus-menerus dalam pola hidup yang tidak sehat.

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya konsumsi gula berlebihan, stevia muncul sebagai salah satu alternatif pemanis yang semakin banyak dibicarakan.

Tanaman yang daunnya memiliki rasa sangat manis ini dipasarkan sebagai pengganti gula pasir. Berbagai produk stevia menjanjikan rasa manis dengan sedikit atau bahkan tanpa tambahan kalori. Sebagian konsumen menggunakannya untuk mengurangi konsumsi gula, sementara penderita diabetes mempertimbangkannya sebagai alternatif pemanis minuman dan makanan.

Namun, pertanyaan pentingnya tidak berhenti pada apakah stevia lebih manis daripada gula.

Apakah stevia benar-benar aman dikonsumsi setiap hari? Apakah pemanis ini bisa membantu menurunkan berat badan? Benarkah stevia tidak memengaruhi gula darah? Bagaimana dengan efek sampingnya? Dan apakah semua produk berlabel stevia memiliki manfaat yang sama?

Jawabannya membutuhkan pemahaman yang lebih cermat daripada sekadar menerima klaim bahwa sesuatu yang berasal dari tanaman pasti lebih sehat.

Apa Itu Stevia dan Mengapa Rasanya Sangat Manis?

Stevia merupakan tanaman dari spesies Stevia rebaudiana Bertoni, yang berasal dari wilayah Amerika Selatan, terutama Paraguay dan Brasil.

Tanaman ini telah lama dikenal karena daunnya memiliki rasa manis. Dalam perkembangannya, stevia dibudidayakan di berbagai negara untuk menghasilkan bahan pemanis yang digunakan dalam industri makanan dan minuman.

Keistimewaan stevia terletak pada kandungan senyawa alami yang disebut steviol glycosides atau glikosida steviol.

Senyawa inilah yang memberikan rasa manis dengan intensitas jauh lebih tinggi dibandingkan gula pasir.

Beberapa jenis glikosida steviol yang dikenal antara lain stevioside, rebaudioside A, rebaudioside D, dan rebaudioside M.

Setiap senyawa memiliki karakteristik rasa yang berbeda. Ada yang menghasilkan rasa manis cukup bersih, sementara yang lain dapat meninggalkan sensasi pahit atau rasa menyerupai licorice.

Stevia Bisa 200–300 Kali Lebih Manis daripada Gula

Ekstrak stevia dengan kemurnian tinggi dapat memiliki tingkat kemanisan sekitar 200–300 kali dibandingkan sukrosa atau gula pasir, bergantung pada jenis senyawa dan kondisi penggunaannya.

Artinya, jumlah pemanis yang dibutuhkan untuk menghasilkan rasa manis tertentu bisa jauh lebih sedikit dibandingkan gula biasa.

Namun, perbandingan tersebut berlaku untuk ekstrak glikosida steviol tertentu, bukan otomatis untuk semua daun stevia atau produk bubuk yang dijual di pasaran.

Produk komersial sering kali mencampurkan ekstrak stevia dengan bahan pengisi agar lebih mudah ditakar.

Karena itu, satu sendok teh produk stevia tidak selalu memiliki tingkat kemanisan yang sama dengan satu sendok teh ekstrak stevia murni.

Mengapa Stevia Hampir Tidak Mengandung Kalori?

Gula pasir merupakan karbohidrat yang menyediakan energi sekitar empat kilokalori per gram.

Sebaliknya, glikosida steviol tidak digunakan tubuh sebagai sumber energi dengan cara yang sama seperti sukrosa.

Senyawa tersebut mengalami proses metabolisme yang berbeda dan digunakan dalam jumlah sangat kecil karena tingkat kemanisannya tinggi.

Itulah sebabnya pemanis stevia dengan kemurnian tinggi dapat memberikan rasa manis dengan kontribusi kalori yang sangat rendah.

Namun, produk stevia yang dicampur bahan lain belum tentu sepenuhnya bebas kalori.

Kandungan akhir tetap bergantung pada komposisi produk.

Manfaat Stevia bagi Kesehatan: Apa yang Benar-Benar Didukung Ilmu Pengetahuan?

Popularitas stevia sering disertai berbagai klaim kesehatan.

Ada yang menyebut stevia mampu menurunkan gula darah, mencegah diabetes, memperbaiki metabolisme, hingga membantu menurunkan berat badan secara cepat.

Sebagian klaim tersebut terdengar menarik, tetapi perlu dibedakan antara manfaat yang telah cukup didukung bukti dan dugaan yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

1. Membantu Mengurangi Asupan Gula Tambahan

Manfaat stevia yang paling jelas adalah kemampuannya menggantikan sebagian atau seluruh gula tambahan dalam makanan dan minuman.

Sebagai contoh, seseorang yang biasanya menambahkan dua sendok teh gula ke dalam teh dapat menggantinya dengan pemanis stevia yang sesuai.

Jika penggantian dilakukan tanpa menambah sumber kalori lain, jumlah gula dan kalori dalam minuman tersebut dapat berkurang.

Manfaat ini menjadi relevan karena konsumsi gula tambahan yang berlebihan merupakan salah satu persoalan dalam pola makan modern.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar asupan gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10% total energi harian, dan menyatakan bahwa pembatasan hingga kurang dari 5% dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Namun, mengurangi gula tidak harus selalu dilakukan dengan menggantinya menggunakan pemanis intensitas tinggi.

Mengurangi tingkat kemanisan makanan dan minuman secara bertahap juga merupakan strategi yang baik.

2. Dapat Menjadi Alternatif Pemanis bagi Penderita Diabetes

Stevia banyak menarik perhatian penderita diabetes karena glikosida steviol tidak menaikkan kadar glukosa darah secara langsung seperti gula pasir.

Ketika digunakan sebagai pengganti sukrosa, stevia dapat membantu mengurangi jumlah karbohidrat yang masuk dari makanan atau minuman.

Misalnya, mengganti gula dalam kopi dengan ekstrak stevia dapat mengurangi asupan gula dari kopi tersebut.

Namun, hal ini tidak berarti stevia merupakan obat diabetes.

Stevia tidak dapat menggantikan insulin, obat penurun gula darah, aktivitas fisik, maupun pengaturan pola makan.

Selain itu, makanan yang menggunakan stevia masih bisa mengandung karbohidrat dari tepung, susu, buah, atau bahan lain.

Kue berlabel tanpa gula tambahan, misalnya, tetap dapat meningkatkan gula darah apabila mengandung banyak tepung atau pati.

Stevia dapat membantu mengurangi konsumsi gula, tetapi bukan jaminan bahwa suatu makanan aman dikonsumsi tanpa batas oleh penderita diabetes.

3. Berpotensi Membantu Mengurangi Asupan Kalori

Mengganti minuman tinggi gula dengan minuman yang menggunakan stevia dapat mengurangi kalori dari gula tambahan.

Dalam jangka pendek, hal ini berpotensi membantu seseorang mengendalikan asupan energi.

Namun, penurunan berat badan tidak hanya bergantung pada jenis pemanis.

Jumlah makanan yang dikonsumsi, aktivitas fisik, kualitas tidur, kondisi metabolik, dan pola makan secara keseluruhan juga memiliki pengaruh.

Seseorang yang mengganti gula dengan stevia tetapi kemudian meningkatkan konsumsi makanan berkalori tinggi belum tentu mengalami penurunan berat badan.

Karena itu, stevia sebaiknya dipandang sebagai alat untuk membantu mengurangi gula, bukan jalan pintas menuju tubuh ideal.

4. Tidak Menyebabkan Kerusakan Gigi seperti Gula Biasa

Bakteri tertentu di dalam mulut dapat memanfaatkan gula untuk menghasilkan asam yang berkontribusi terhadap kerusakan enamel gigi.

Glikosida steviol tidak difermentasi oleh bakteri mulut dengan cara yang sama seperti sukrosa.

Karena itu, mengganti gula dengan stevia dapat membantu mengurangi paparan gula yang berkontribusi terhadap gigi berlubang.

Namun, manfaat ini tidak berarti produk berpemanis stevia otomatis baik bagi kesehatan gigi.

Minuman yang sangat asam, misalnya, tetap dapat menyebabkan erosi enamel meskipun tidak mengandung gula.

Kebersihan mulut, penggunaan pasta gigi berfluorida, dan pemeriksaan gigi tetap diperlukan.

Efek Samping Stevia: Apakah Benar-Benar Aman Dikonsumsi Setiap Hari?

Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai stevia adalah anggapan bahwa semua bahan alami pasti aman dikonsumsi sebanyak apa pun.

Faktanya, keamanan suatu bahan ditentukan oleh jenis senyawa, tingkat kemurnian, jumlah konsumsi, dan kondisi kesehatan penggunanya.

Stevia dalam bentuk glikosida steviol dengan kemurnian tinggi telah dievaluasi oleh sejumlah otoritas keamanan pangan internasional.

FDA Amerika Serikat, misalnya, telah mengevaluasi pemberitahuan keamanan untuk berbagai jenis glikosida steviol berkadar kemurnian tinggi. Namun, FDA membedakannya dari daun stevia utuh dan ekstrak kasar, yang tidak memiliki status keamanan yang sama untuk penggunaan sebagai pemanis makanan di Amerika Serikat. FDA

Apakah Stevia Bisa Merusak Ginjal?

Kekhawatiran mengenai kerusakan ginjal sering muncul dalam pembahasan pemanis.

Namun, bukti keamanan yang tersedia tidak menunjukkan bahwa konsumsi glikosida steviol berkualitas pangan dalam batas yang ditetapkan secara langsung menyebabkan kerusakan ginjal pada manusia sehat.

Hal tersebut bukan berarti stevia dapat digunakan untuk mengobati penyakit ginjal.

Orang dengan gangguan ginjal perlu memperhatikan keseluruhan pola makan dan komposisi produk yang digunakan, termasuk bahan tambahan lainnya.

Apakah Stevia Menyebabkan Kanker?

Berdasarkan evaluasi ilmiah European Food Safety Authority (EFSA), glikosida steviol yang memenuhi spesifikasi keamanan tidak dinilai bersifat karsinogenik atau genotoksik berdasarkan bukti yang tersedia dalam penilaian tersebut. Wiley Online Library

Dengan demikian, klaim bahwa stevia yang memenuhi standar pangan pasti menyebabkan kanker tidak didukung oleh evaluasi tersebut.

Namun, penting untuk tidak menyamaratakan hasil penelitian terhadap glikosida steviol murni dengan semua produk herbal yang mengandung daun stevia dalam bentuk berbeda.

Mengapa Ada Orang yang Mengalami Kembung Setelah Mengonsumsi Stevia?

Sebagian produk pemanis stevia menggunakan bahan tambahan seperti eritritol, inulin, atau jenis pemanis lain.

Pada orang tertentu, konsumsi bahan-bahan tersebut dapat menyebabkan keluhan pencernaan, terutama apabila digunakan dalam jumlah besar.

Keluhan dapat berupa kembung, rasa tidak nyaman pada perut, atau perubahan pola buang air besar.

Artinya, ketika seseorang mengalami keluhan setelah mengonsumsi produk stevia, penyebabnya belum tentu glikosida steviol itu sendiri.

Komposisi lengkap produk perlu diperiksa.

Berapa Batas Aman Konsumsi Stevia per Hari?

Komite Ahli Gabungan FAO/WHO untuk Bahan Tambahan Pangan atau JECFA menetapkan acceptable daily intake (ADI) glikosida steviol sebesar 0–4 miligram per kilogram berat badan per hari, dinyatakan sebagai ekuivalen steviol.

Pada evaluasi 2026, JECFA kembali menegaskan batas tersebut. JECFA

Kalkulator batas asupan harian stevia

Perkiraan berdasarkan ADI JECFA, bukan takaran bubuk produk stevia.Berat badan

60 kg

Batas ADI harian, sebagai ekuivalen steviol

240 mg

Perhitungan: 60 kg × 4 mg/kg berat badan/hari

ADI adalah batas asupan harian yang dianggap aman untuk konsumsi jangka panjang, bukan target yang harus dicapai. Jumlah ini tidak dapat langsung disamakan dengan berat bubuk atau jumlah tetes pemanis komersial.

Untuk orang dengan berat badan 60 kilogram, misalnya, batas tersebut setara dengan 240 miligram ekuivalen steviol per hari.

Namun, konsumen tidak dapat langsung menimbang 240 miligram produk stevia dan menganggapnya sesuai batas.

Produk bisa mengandung konsentrasi glikosida steviol berbeda, bahkan sebagian besar volumenya mungkin berasal dari bahan pengisi.

Karena itu, penggunaan sesuai petunjuk label merupakan pendekatan yang lebih praktis.

WHO Tidak Menganjurkan Stevia untuk Menurunkan Berat Badan: Apa Maksudnya?

Pada Mei 2023, WHO menerbitkan pedoman mengenai penggunaan pemanis non-gula, termasuk stevia.

WHO menyarankan agar pemanis non-gula tidak digunakan sebagai strategi utama untuk mengendalikan berat badan atau menurunkan risiko penyakit tidak menular pada masyarakat umum.

Rekomendasi tersebut bersifat kondisional dan didasarkan pada evaluasi bukti yang tidak menemukan manfaat jangka panjang yang meyakinkan untuk pengendalian lemak tubuh.

WHO juga mencatat adanya hubungan dalam sejumlah studi observasional antara konsumsi pemanis non-gula dan risiko penyakit tertentu. Namun, hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa pemanis merupakan penyebab langsung penyakit. World Health Organization+1

Apakah WHO Mengatakan Stevia Berbahaya?

Tidak.

Pedoman WHO mengenai pengendalian berat badan bukan penilaian baru yang menyatakan glikosida steviol beracun atau tidak aman digunakan sesuai batas pangan.

WHO secara eksplisit membedakan rekomendasi pola makan tersebut dari evaluasi keamanan toksikologis yang menetapkan batas asupan harian.

Selain itu, rekomendasi WHO tersebut tidak ditujukan kepada orang yang telah memiliki diabetes.

Perbedaan ini penting karena pernyataan WHO sering disederhanakan menjadi seolah-olah seluruh pemanis non-gula telah dinyatakan berbahaya.

Mengurangi Rasa Manis Lebih Penting daripada Sekadar Mengganti Pemanis

Salah satu pesan penting WHO adalah perlunya mengurangi ketergantungan terhadap rasa manis dalam pola makan.

Jika seseorang terbiasa mengonsumsi minuman sangat manis, mengganti gula dengan stevia dapat membantu mengurangi gula tambahan.

Namun, kebiasaan menginginkan rasa yang sangat manis mungkin tetap bertahan.

Karena itu, strategi yang lebih menyeluruh adalah mengurangi gula sekaligus membiasakan lidah menikmati makanan dan minuman dengan rasa manis yang lebih ringan.

Stevia vs Gula Pasir: Mana yang Lebih Baik?

AspekStevia berkadar kemurnian tinggiGula pasir
SumberGlikosida steviol dari tanaman stevia atau proses produksi yang diizinkanTebu atau bit gula
KaloriHampir nol pada penggunaan normalSekitar 4 kkal/gram
KemanisanSekitar 200–300 kali gula untuk ekstrak tertentuAcuan standar
Dampak langsung pada glukosa darahMinimalMeningkatkan glukosa darah
Fungsi dalam kueMemberikan rasa manis, tetapi tidak selalu menggantikan tekstur gulaMemberikan rasa, volume, dan membantu pembentukan tekstur
Rasa akhirDapat meninggalkan rasa pahitUmumnya lebih netral
PenggunaanSesuai label dan batas keamananBatasi gula bebas dalam pola makan

Jika tujuan seseorang adalah mengurangi asupan gula tambahan, stevia dapat menjadi salah satu alternatif yang berguna.

Namun, apabila tujuannya adalah meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, kualitas makanan tetap lebih penting daripada sekadar mengganti satu jenis pemanis.

Jangan Terkecoh Label: Tidak Semua Produk Stevia Sama

Di pasaran, stevia dijual dalam berbagai bentuk, seperti cairan tetes, bubuk, tablet, dan campuran pemanis untuk memasak.

Sebagian produk mengandung glikosida steviol berkadar tinggi. Sebagian lain merupakan campuran dengan eritritol, maltodekstrin, atau dekstrosa.

Komposisi ini memengaruhi tingkat kemanisan, kandungan kalori, serta kesesuaian produk bagi konsumen tertentu.

Cara Memilih Produk Stevia

Sebelum membeli, periksa daftar komposisi dan informasi nilai gizi. Perhatikan apakah produk mengandung gula tambahan, dekstrosa, atau bahan pengisi lainnya.

Pastikan produk memiliki izin edar atau memenuhi ketentuan pangan yang berlaku di Indonesia. Gunakan sesuai petunjuk dan jangan menganggap tulisan natural atau zero sugar sebagai jaminan bahwa produk boleh dikonsumsi tanpa batas.

BPOM menjelaskan bahwa glikosida steviol termasuk pemanis alami yang diizinkan sebagai bahan tambahan pangan sesuai ketentuan. BPOM juga menegaskan batas ADI sebesar 0–4 mg/kg berat badan per hari sebagai steviol. Badan Pengawas Obat dan Makanan

Apakah Stevia Cocok untuk Kopi, Teh, dan Makanan Sehari-hari?

Stevia dapat digunakan pada berbagai minuman dan makanan, tetapi hasilnya bergantung pada formulasi produk.

Dalam kopi atau teh, stevia dapat memberikan rasa manis tanpa menambahkan gula pasir. Namun, sebagian orang merasakan rasa akhir yang sedikit pahit, terutama jika dosisnya berlebihan.

Untuk makanan yang dipanggang, mengganti gula dengan stevia membutuhkan penyesuaian resep.

Gula tidak hanya berfungsi sebagai pemanis. Dalam kue, gula juga membantu memberikan volume, kelembapan, warna, dan tekstur.

Karena itu, mengganti seluruh gula dengan ekstrak stevia murni belum tentu menghasilkan makanan dengan kualitas yang sama.

Potensi Budidaya Stevia di Indonesia

Selain menjadi alternatif pemanis, stevia memiliki potensi sebagai komoditas pertanian bernilai tambah.

Tanaman ini dapat dibudidayakan pada lingkungan yang sesuai, dengan pengelolaan tanah, air, nutrisi, dan pemanenan yang tepat.

Namun, keberhasilan budidaya tidak otomatis menjamin keuntungan.

Peluang Industri Pemanis Alami

Permintaan terhadap produk rendah gula membuka peluang pengembangan bahan pemanis untuk industri minuman, makanan, dan produk kesehatan.

Indonesia berpotensi mengembangkan rantai nilai stevia, mulai dari pembibitan, budidaya, pengeringan daun, hingga pengolahan ekstrak.

Akan tetapi, pasar pemanis komersial memiliki persyaratan kualitas yang ketat.

Produsen perlu memperhatikan kadar senyawa aktif, konsistensi bahan baku, keamanan pangan, dan standar produksi.

Tantangan Petani Stevia

Salah satu tantangan utama adalah memastikan adanya pembeli dengan spesifikasi yang jelas.

Harga daun stevia tidak dapat disamakan begitu saja dengan harga ekstrak stevia berkadar kemurnian tinggi.

Proses ekstraksi dan pemurnian memerlukan teknologi, investasi, serta pengendalian mutu.

Karena itu, calon petani sebaiknya mempelajari biaya produksi dan akses pasar sebelum menanam dalam skala besar.

Peluang bisnis stevia memang ada, tetapi klaim bahwa tanaman ini pasti menghasilkan keuntungan besar tanpa risiko tidak memiliki dasar yang cukup.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Stevia

Apakah stevia aman untuk penderita diabetes?

Glikosida steviol berkadar kemurnian tinggi umumnya dapat digunakan sebagai alternatif pengganti gula sesuai ketentuan. Namun, penderita diabetes tetap perlu memantau asupan karbohidrat total dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Apakah stevia aman dikonsumsi setiap hari?

Secara umum, stevia berkualitas pangan dapat digunakan dalam batas asupan yang ditetapkan. Keamanan bergantung pada jenis produk, jumlah konsumsi, dan kondisi individu.

Apakah stevia menyebabkan kanker?

Evaluasi keamanan yang tersedia tidak mendukung klaim bahwa glikosida steviol yang memenuhi spesifikasi pangan menyebabkan kanker pada penggunaan yang sesuai ketentuan.

Apakah stevia membantu menurunkan berat badan?

Mengganti gula dengan stevia dapat mengurangi asupan kalori dari gula. Namun, manfaat penurunan berat badan jangka panjang belum terbukti konsisten, dan WHO tidak menganjurkan pemanis non-gula sebagai strategi utama pengendalian berat badan.

Apakah stevia lebih baik daripada madu?

Keduanya berbeda. Madu tetap mengandung gula dan kalori, sedangkan glikosida steviol murni memberikan rasa manis dengan kontribusi kalori minimal. Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan dan pola makan secara keseluruhan.

Penutup: Stevia Bukan Obat Ajaib, tetapi Bisa Membantu Mengurangi Gula

Stevia menawarkan sesuatu yang menarik bagi masyarakat modern: rasa manis dengan kontribusi kalori yang sangat rendah.

Bagi orang yang ingin mengurangi gula dalam kopi, teh, atau makanan tertentu, stevia dapat menjadi pilihan praktis. Bagi penderita diabetes, pemanis ini juga dapat membantu mengurangi asupan gula apabila digunakan secara tepat.

Namun, stevia bukan obat diabetes, bukan jaminan penurunan berat badan, dan bukan alasan untuk terus mempertahankan kebiasaan mengonsumsi makanan yang terlalu manis.

Konsumen juga perlu membedakan ekstrak stevia berkualitas pangan dengan daun atau ekstrak kasar, serta memahami bahwa produk komersial dapat mengandung bahan tambahan.

Kesehatan tidak ditentukan oleh seberapa pintar kita mengganti gula, melainkan oleh seberapa baik kita memperbaiki pola makan secara keseluruhan.

Stevia bisa menjadi bagian dari perubahan itu. Tetapi perubahan yang lebih penting adalah membangun kebiasaan makan yang seimbang, mengurangi gula tambahan, dan tidak menjadikan rasa manis sebagai kebutuhan dalam setiap makanan maupun minuman.

Referensi

  1. World Health Organization (WHO), 2023. Use of Non-Sugar Sweeteners: WHO Guideline. Pedoman resmi WHO
  2. WHO, 15 Mei 2023. WHO Advises Not to Use Non-Sugar Sweeteners for Weight Control. Penjelasan rekomendasi WHO
  3. FAO/WHO JECFA, evaluasi 2026. Steviol Glycosides — Acceptable Daily Intake. Data keamanan stevia JECFA
  4. U.S. Food and Drug Administration (FDA). Aspartame and Other Sweeteners in Food. Penilaian keamanan pemanis oleh FDA
  5. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produk Bahan Tambahan Pangan Pemanis Alami Stevia. Penjelasan resmi BPOM
  6. European Food Safety Authority (EFSA), 2010. Scientific Opinion on the Safety of Steviol Glycosides. Kajian ilmiah EFSA

Back To Top